Delapan ke-41

Bismillah…

Makassar, 8 November 2017

Di awal pernikahan sampai setahun lebih sedikit kami selalu ingat tanggal pernikahan kami. Sekadar saling mengucapkan selamat—berhubung waktu itu sempat beberapa kali LDM jadi selalu menghitung tanggal. Makin kesini makin jarang ingat. Alhamdulillah semakin jarang LDM kecuali saat kami pulkam dan saya tinggal di kampung sedikit lebih lama hehe.

Tetiba suami WA sesaat tiba di kantor, mengucapkan selamat. Sudah lama sejak terakhir saya ingat tanggal pernikahan kami, yaitu bulan Juni lalu 😅. Tidak ada yang berbeda dari tanggal-tanggal lainnya. Suami sibuk dengan kerjaannya dan saya menyibukkan diri :’D.

Hari ini saya meneruskan pekerjaan kemarin—mengupas kulit kacang hijau. Perlu waktu sampai 3 jam untuk mengupas 150 g kacang hijau utuh, padahal sudah direndam seharian..duh. Dilanjut membuat pasta kacang hijau dan membentuknya menyerupai buah-buahan. Belum lama pegang adonan lampu mulai meredup, lampu belakang mati nyala, kipas angin mulai melambat. Pertanda segera mati total. Qabla maghrib masih remang-remang, masih bisa urus adonan. Pas maghrib, adzan terdengar jelas lewat pengeras suara, lampu yang menyala bertambah satu, kipas angin sudah nyala lagi. Sudah geer enggak jadi mati listrik. Ba’da maghrib, kipas mulai melambat lagi, lampu yang menyala tinggal satu, itupun remang-remang. Berasa digodain PLN 😆. Dan akhirnya pas adzan isya resmi mati listrik XD. Langsung shalat isya, simpan adonan, dan siap-siap nyusul suami ke kampus. Tapi, karena merasa lapar dan saya baru ingat belum makan tadi siang, jadinya jalan ke tempat makan dekat rumah dan nangkring disana sampai suami jemput. Sama-sama gelap sih, tapi lebih ramai (iyalah 😒).

Akhirnya suami jemput, dan mampir sebentar di warung sate (suami yang lapar, bukan saya). Sambil menunggu suami makan saya telepon layanan PLN, bukan giliran pemadaman katanya. Mengira-ngira di sekitaran rumah sudah nyala apa belum, kami pun pulang. Dan masih gelap. Suami mulai kepanasan, mau mandi pun seidaan air kurang. Kalau 45 menit lagi masi belum nyala suami ngajak menginap di hotel terdekat (doi sibuk cari-cari hotel, saya mah pusing gelap-gelapan liat hp 😃).

Satu jam berlalu dan masih gelap. Kami pun memutuskan menginap di hotel terdekat. Saking dekatnya, cukup bawa satu ransel isi sabun cuci muka, sikat gigi, alat shalat, dompet, dan kami berjalan kaki. Tiba di hotel, kami memilih kamar standar. Sementara proses pembayaran, kami diminta untuk menunggu karena komputernya baru dinyalakan lagi. Sempat terpikir apa mungkin sudah mulai nyala listrik di luar tapi masih terdengar suara genset, mungkin memang belum ada pengunjung sejak mati lampu tadi. Selesai proses pembayaran, kami jalan menuju tangga dan…

Suara genset mati, tanda aliran listrik sudah normal. Saya dan suami hanya saling pandang, berasa tambah berat naik tangga 😅😅.

Well, selamat tanggal delapan yang ke empat puluh satu, suami ❤.

Nota pembayaran
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s