Toge laut?

Bismillah…

Makassar, 16 Oktober 2017

Hari Ahad, kami belanja ke TPI Rajawali karena suami ingin dibuatkan balakutak. Di pasar biasa pun sebenarnya ada yang menjual cumi, dengan harga yang kadang lebih murah dan cukup segar, namun saya terbayang masak sup kepala ikan. Sampai mewanti-wanti suami dari hari Jumat kalau saya ingin makan kepala ikan.

Tiba disana, saya sudah tidak tertarik lagi dengan kepala ikan. Mungkin karena lihat kanan-kiri isinya banyak ikan dan aroma ikannya sudah cukup membuat saya merasa kenyang. Cuminya dapat (kali ini beneran cumi, bukan sotong) 110rb satu kumpul, isi 9 ekor cumi (ditimbang lagi di rumah ±2 kg 😃). Ingin meyakinkan saya agar beli ikan / kepala ikan, suami ajak saya kelilingi lagi pasar. Malah tambah kenyang dengan aroma ikannya 😅.

Sampai di tukang yang biasa jual kerang, kerang yang biasa (kerang apa y namanya?) sudah habis, tinggal rumput laut dan toge laut. 

👩”Apa? Toge laut, Pak?”

👴”Iye, toge laut, atau ikan jepang. Enak ini dimasak tumisan”

Berhubung penasarannya muncul lagi, belilah satu kumpul, 15rb (±300 g). Lucu ya bentuknya beneran mirip toge, itu pikiran saat masih di pasar. Tiba di rumah, timbang toge lautnya, baru dibuka kereseknya. Baru sadar juga bagian kepalanya itu adalah kerang. Dan baru sadar juga bentuknya menurut saya agak menyeramkan, sambil membayangkan gimana kalau hidup lagi terus gerak-gerak dan cangkang kerangnya terbuka….

Sambil membisikkan ke sendiri agar sabar saat membersihkannya—disikat kepalanya satu-satu, bagian ujung ekornya dipotong. Akhirnya beres juga, alhamdulillah. Beri sedikit garam dan simpan di kulkas. Selanjutnya adalah browsing. 

Cari-cari dengan keyword toge laut hasilnya nihil, ikan jepang pun kosong. Kerang berekor, baru muncul hasil pencariannya. Ternyata punya banyak nama; tebalan, Lingula unguis, lamp shell, barai hijau, kanjeppang (bukan ikan jepang, kuping 😹). 

Barulah setelah dapat hasil pencarian juga tanya sana sini, saya berani memasak. Setelah menunggu semalam dikulkas, saya rebus kanjeppang sekitar 10 menit, lalu tiriskan. Selanjutnya tumis bawang putih, cabai merah, jahe, serai, dan daun jeruk purut sampai harum. Tambahkan air, gula pasir, garam, merica, saus tiram, penyedap rasa secukupnya. Setelah mendidih baru masukkan kanjeppang, masak sampai bumbu nampak meresap, lalu koreksi rasa.

Kanjeppang rebus

Saat sudah masak pun saya masih belum berani coba, biar tunggu suami pulang sambil tanya lagi sana-sini bagaimana cara makannya.

Tumisan kanjeppang

Akhirnya setelah suami pulang, kami cicip kanjepang ini. Isi bagian kepalanya mirip isi kerang biasa (kerang apa namanya?😅), enggak begitu gurih, enggak eneg. Bagian ekor yang dimakan adalah isinya, seperti makan cok*-c*ki. Sempat coba kulit ekornya, rasanya mirip tulang rawan.

Kanjepang ini ternyata tidak seseram yang dibayangkan di awal. Dagingnya enak, enggak bikin eneg, dan katanya sih tinggi protein juga.  Lain kali boleh coba beli lagi 😃.

Advertisements

2 thoughts on “Toge laut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s