Bukan Curhatan

Bismillah

Makassar, 6 Juli 2017

Di perjalanan menuju kantor, suami membolehkan saya, jika ingin, pergi sendiri ke Alaska, toko alat rumah tangga siang-siang, agar lebih lelulasa. Saya menolak dengan alasan enggak berani. Kata suami aneh karena saya lebih memilih mengantar ke kantor daripada pergi ke Alaska sendiri, padahal pulang dari kantor suami sendiri juga. Jarak rumah-Alaska 2,4 km dan rumah-kantor suami 5,6 km. Iya, aneh ya hehe.

Rasanya setelah menikah membuat keberanian menurun. Enggak berani pergi jauh-jauh, sering membayangkan hal negatif jika jalan sendiri. Apa karena kebanyakan nonton?

Saat masih kuliah, untuk mengurus seminar ke Distanpang sendirian dari Jatinangor. Pergi ke Pasar Balubur sendirian cuma buat cari kertas khusus untuk proposal seminarnya. Saat mudik kemarin jalan-jalan ke daerah Surapati dan lewat Distanpang berasa amazed sama sendiri (lebay). Kalau sekarang enggak kebayang mau ngurus kayak itu. Bayangan perjalanan Jatinangor-Surapati, lalu jalan ke arah cikapayang dan nunggu bis Damri ke arah Leuwi Panjang. Habis itu jalan keluar dari terminal cari angkot di luar biar enggak ngetem. Tahun depannya, setelah kenal sama yang-sekarang-jadi-suami dan masih mengurus keperluan seminar, ada yang nemenin kesana-kemari (modusnya si doi?hahaha).

Awal-awal kerja sempat ke Lembang karena ada acara kantor. Kata gm*ps sih jaraknya 29 km. Bermotor-ria dengan teman kerja, mengendarai motor masing-masing. Kelokan jalannya berhasil membuat motor saya menabrak mobil yang tiba-tiba berhenti di depan (ditambah dapat dorongan mobil pula dari belakang, duh! kejadian selanjutnya skip).

Kapok naik motor? Enggak. Lain waktu, ke daerah Pangalengan (27 km) untuk meramaikan kerjaan orang lain (kayak orang kurang kerjaan). Kelokannya lebih tajam dan jalannya lebih sempit (masih ada aja yang multitasking—satu pegang stang motor satu lagi pegang hape).

Akhir-akhir ini sering kepikiran tentang ibu-ibu pakai motor yang kadang jalannya di tengah dengan kecepatan biasa saja, dengan atau tanpa lampu sen yang membingungkan (sen kiri tapi belok kanan, sen kanan tapi belok kiri, sen kiri atau kanan tapi ditunggu dari belakang enggak belok-belok). Mungkin sang ibu dulu gesit, saya kira. Dengan bertambahnya usia dan tanggung jawab, membuatnya melakukan semua hal dengan penuh pertimbangan. Kalau-kalau hal yang tidak diinginkan terjadi, yang terpikir adalah “bagaimana nanti keluarga?”. Kayaknya sih begitu.

Jadi, mengingatkan diri, kalau bertemu dengan ibu seperti itu enggak perlu diklakson, kasihan. Kecuali kalau tiba-tiba belok tanpa memberi tanda apapun, tanpa lirik spion pula…bahaya😀😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s