Surat Cinta untuk Suami

Bismillah

Dear Suami,

Tanggal 8 Juni 2017, genap 3 tahun pernikahan kita, bagaimana perasaanmu? Apakah sama seperti di awal pernikahan atau lebih? Tidak ada yang berubah darimu dari sebelum menikah sampai sekarang. Kebaikan yang kamu perlihatkan bukan cuma modus. Kamu memang baik ke semua orang, tapi untuk orang yang bagimu spesial kamu jauuuh lebih baik. Baru 3 tahun loh kita, tapi rasanya seperti baru tahun lalu kamu ijab kabul dengan lancarnya didepan Bapa dan saksi. Ucapan cinta yang sederhana tiap hari, apa itu rahasianya? Atau bubuk apa yang pernah kamu taburkan dulu di makananku? 😂 

DKS, Di bawah Ketiak Suami. Aku suka sebutan itu, konyol sih kalau dipikir-pikir. “Kemanapun Aku pergi, Aku ingin Kamu ikut”. Meski terdengar posesif tapi menurutku itu adalah bentuk tanggung jawabmu, bukan semata kamu perlu tukang masak, tukang cuci, tukang bersih-bersih rumah. Dari awal pernikahan kamu tegaskan bahwa sandang, pangan, papan adalah tanggung jawabmu. (Dan istri yang baik adalah yang nurut apa kata suami, termasuk jika dimintai tolong masak, cuci, dsb. Cuma Kang Emil yang bilang gini, kamu mah enggak. Hehehe..). Karena DKS itu, aku jadi tau rasanya hidup di rantau. Jadi sering naik pesawat, coba kereta api malam, ngerasain mualnya naik kapal cepat, sempat ingin pingsan di perjalanan pulang dari Bone, dan jadi korban antim*. Aku menikmatinya, selagi bisa 😃.

Terima kasih karena selalu bersabar denganku. Aku tau untuk bisa menikahiku membutuhkan ekstra kesabaran, terutama tentang beberapa syarat yang kuajukan. Lepas itu, masih harus LDM beberapa bulan sampai kontrak kerjaku selesai dan aku bisa ikut merantau denganmu. Kamu mengerti bahwa setelah menikah bakti perempuan pindah ke suaminya, tapi kamu memberiku “liburan” rutin untuk bertemu dengan orangtuaku. Belum lagi keperluan orangtua yang membuat aku meninggalkanmu dalam waktu tidak sebentar.

Terima kasih telah menjadi teman bicaraku sehari-hari. Aku tau ini bukan di Baubau lagi yang minim tetangga hingga seharian menunggumu pulang agar bicara secara langsung. Tapi memang pada dasarnya aku agak kesulitan beradaptasi. Untuk sekadar say hi dengan tetangga saat di tukang sayur atau mengobrol sebentar di tukang jajanan aku masih bisa. Dan yang utama, tidak semua hal bisa aku obrolkan dengan orang lain. Maaf karena masih harus belajar mengontrol mimik muka saat kamu kurang line/wa. Kerjamu yang tidak sedikit juga mengejar gelar sarjana cukup menyita waktu kebersamaan kita. Tapi itu semua demi masa depan keluarga kita, bukan? Sering malu sendiri jadinya..huhu.

Terima kasih karena tidak pernah mengekangku. Kamu yang mendorongku untuk menemukan kembali apa hobiku. Dari mengirimi brosur cooking class atau kursus masak lain sampai mencari bahannya. Mengirimi brosur beauty class walau sebenarnya kamu lebih suka aku no-makeup. Mengajak ke toko buku, padahal buku yang belum dibaca bukan cuma satu. Membelikan kamera digital meski aku tidak mengerti fotografi. Tiba-tiba membuatkan blog, padahal kamu paham aku tidak suka menulis. Dan banyak hal lain yang kamu lakukan yang membuatku bersyukur bahwa yang menjadi suamiku adalah kamu.

Untuk menjadi suami yang baik di mataku, kamu sudah memenuhi kriterianya. Apa aku sudah memenuhi kriteria istri yang baik dimatamu? Untuk kriteria ayah yang baik pun kamu sudah memenuhinya, menurutku. Untuk jadi ibu yang baik, aku masih harus banyak belajar. Mungkin itu salah satu alasan Allah belum memberi kita keturunan, aku masih harus memantaskan diri supaya nantinya bisa lebih siap. Bukan sekadar ingin ada bayi-kecil-mungil-imut karena bisa diperlakukan seperti boneka, tapi harus memahami fitrahnya dan bisa mendidik anak sesuai dengan kehendakNya.

Sudah terharu bacanya, Sayang? Saya lebih terharu dengan apa yang selalu kamu lakukan 😊. Semoga Allah senantiasa menjagamu dengan segala kebaikanmu. Semoga kita menjadi pasangan kompak, seperti yang pernah kamu bilang.

Terima kasih banyak, Sayang. 😘

__________

Titik ke-0
Titik ke-3

Tahun ke-1 dan ke-2 enggak ada foto khusus, paling cake hahaha.

Titik ke-1
Titik ke-2

Jauh beda tampilan antara buatan sendiri (hampir mendekati putus asa) dan buatan tangan orang lain 😳.

Selain cinta yang bertambah (eeaaa) bobot badan kami pun ikut bertambah

 

Advertisements

2 thoughts on “Surat Cinta untuk Suami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s