Makassar, Setahun yang Lalu

Bismillah…

Makassar, 1 Mei 2017

Hari ini tepat satu tahun kami tinggal disini, Kota Daeng. Enam bulan saya di Bandung cukup menurunkan berat badan sendiri dan menaikkan berat badan suami yang tinggal di Jaksel. Enggak ada hubungannya sih antara kepindahan kami ke Makassar dengan perubahan berat badan hehe.

Sepekan sebelumnya, suami sudah mendapat kabar dari atasannya tentang SK barunya. Makassar, kota “kepulangan” suami, “induk” dari penempatan sebelumnya, Baubau. Sedih karena harus pergi lagi dari Bandung-jauh lagi dari ortu, mungkin memang belum rejekinya homebase. Tapi ada rasa senang, karena bareng lagi sama suami, penempatan kali ini di kota besar, ongkos pulkam lebih murah, dan kayaknya enggak ada cerita tentang tetangga yang suka makan orang.

Begitu dapat kabar tentang SK nya, suami langsung cari-cari kontrakan via olx. Saya bantu hubungi tiap kontaknya. Harga murah tapi jauh ke tempat kerja, harga murah dan dekat tol tapi kondisi air kurang bagus, harga mahal tapi dekat ke mall, harga mahal udah gitu non furnish juga jauh dari tempat kerja. Ada yang curhat juga cucunya ngiklan tanpa sepengetahuan empunya. 

Suami juga mengontak teman plus tetangga rumdin selama di Baubau, Mas Dipta&Mba Indhi, minta info jika ada rumah yang mau dikontrakkan. Ada rumah yang ditawarkan, tapi kami belum sreg. Akhirnya dari beberapa kontak di olx kami cukup sreg dengan satu rumah. Semi furnish, tidak terlalu luas memang tapi cukup untuk berdua. 

Setelah menghubungi pemilik rumah, suami minta tolong dicekkan rumahnya ke Mas Dipta. Untuk harga segitu memang worth it, katanya. Lingkungannya aman, banyak tetangga, jarak ke kantor cukup dekat. Bonus lainnya dekat dengan pasar, mini market, mall.

Diantar keluarga

Pindah rumah berarti mereset tabungan. Pikiran saya, kami beruntung karena kami merantau ke tujuan yang pasti, dapat “bekal” pindahan. Suami menjual motor miliknya yang kedua. Motornya penuh kenangan ya hehe tapi jodohnya mungkin cuma sampai situ aja.

Bumi Allah itu luas, dimanapun berada itu adalah bumi Allah. Allah yang menjamin rejeki masing-masing. Kita bukan mencari rejeki, tapi menjemput rejeki.

Sudah mirip orang pindahan

Rencana awal suami duluan yang ke Makassar, saya sehabis Idul Fitri. Tapi akhirnya saya ikut hari itu juga. Tiba di Makassar kami dijemput Mas Dipta, Mba Indhi, Alkha, dan calon adik Alkha. Diantar ke rumah dengan bawaan yang lumayan, ditunjukkan toko alat rumah tangga, lalu diantar juga ke penjual mokas. Dapat info kendaraan pun dari olx. 

Terima kasih banyak, keluarga Mas Dipta

Pemilik kontrakannya ramah. Tetangga samping rumah juga masih keluarga empunya kontrakan.

Harusnya dilaminating untuk kenang-kenangan

Hari pertama di Makassar, kami membeli beberapa alat rumah tangga. Berangkat naik motor, pulang naik taxi dengan dihimpit barang. Besoknya ke toko furnitur. Akhir pekannya dapat undangan pernikahan anaknya Ibu DW Baubau, di Maros. Pekan-pekan selanjutnya coba main ke mall, coba makanan disana-sini, datang ke Makasaar Culinary Night, main ke pantai, ke gunung. 

Dengan ibu DW Baubau, bukannya difoto dengan mempelai πŸ˜…

Suami mulai lagi ekstensi. Jam kuliah malam. Kasihan pulang ke rumah tinggal sisa-sisa tenaga. Ngobrol sebentar, kadang makan malam, mandi, shalat isya, tidur. Kasihannya lagi, hanya beberapa hari di awal Ramadhan ditemani saya. Saya dimintai bantuan oleh ortu untuk pesanan buka-sahur. Suami baru pulkam sepekan sebelum lebaran.
Suami ditinggal lagi pas musim haji, 40 hari lebih. Baik, sabar, dan pengertian banget ini suami πŸ’•πŸ’•πŸ’•. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya kepadamu dan keluarg kita, suami.

Akhir 2016 alhamdulillah dapat rumdin. Meski sudah cukup betah tinggal di kontrakan itu, meski dengar kabar rumdinnya rawan, bismillah pindah lagi. Biaya pindah dan beli ini itu ternyata lebih mahal dibanding biaya kontrakan setahun. Biar.

Biasa siang ramai suara anak tetangga main, malam ramai suara tetangga ngobrol, sekarang diganti suara kendaraan. Suara klakson mirip orang lagi ngobrol, ramai. Bahkan kadang jam 10 malam masih macet depan rumah. 

Semenjak pindah lagi jadi ngerasain naik bentor, naik pete-pete (angkot). Hampir tiap pagi jajan jajanan pasar yang serba seribu di sebrang rumah. Ote, jalangkote, songkolo, panada, bahkan bakpao isi kacang pun seribuan. 

Mulai belajar nyetop lagi tukang sayuran & ikan. Baru berhasil sekali nyetop tukang ikan. Dan sampai sekarang masih berusaha nyetop tukang ikan. Di pasar biasa jenis ikannya terbatas. Kalau mau lengkap ke TPI, Rajawali atau Paotere. Baru dua kali ke TPI Rajawali, kali terakhir beli udang yang sekilo isinya 11 buah. Lain waktu ingin coba main ke Paotere ya, suami, bukan untuk foto sunset tapi hehe.

Disini enggak ada uang kebersihan (atau saya yang enggak tau). Sampah boleh disimpan di pinggir jalan atau depan gerbang tiap sebelum jam 7 pagi atau setelah jam 7 malam. Sering liat petugas kebersihan pagi dan malam berseragam/rompi. Ada yang naik motor dengan bak di belakangnya, jalan kaki sambil bawa tempat sampah besar beroda, pakai mobil sampah “Tangkasaki” atau “Tangkasarong”. Di beberapa lorong (gang) dan jalan raya sering melihat tulisan “Makassarta Tidak Rantasa”, artinya Makassar kita tidak kotor. Pantas bila Makassar dapat beberapa kali Piala Adipura.

Masih suka merasa homesick. Tapi semenjak saudara-yang-nikah-sama-orang-sini pindah lagi kesini jadi agak berkurang. Botram, makan siang, bareng. Bikin seblak bareng. Meski cuma berdua tapi berasa ada di kampung. 

Ada rasa senang tiap ada teman yang sengaja ngajak ketemuan saat lagi dinas atau lewat ke Makassar. Bahkan saat Aa dinas kesini dan ketemuan cuma beberapa menit pun senang.

Ditengokin sebelum nyebrang pulau lagi
Ketemuan dengan penganten baru
Ketemuan kurang dari setengah jam
Ditengokin mamak-mamak DL

Boleh kabari kalau sedang ada di sekitaran Makassar. Walau cuma ketemu di Losari sambil nyicip pisang eppe & sarabba πŸ˜ƒπŸ˜ƒ.

___________

Baru setahun, entah berapa tahun lagi kami akan tinggal disini…

CFD, tadi pagi
Advertisements

9 thoughts on “Makassar, Setahun yang Lalu

    1. Kaget pan, ngebayangin horornya makan orang. Sepekan lebih suka was-was tiap ada yang ngetuk rumah, parno tiap ketemu tetangga di luar komplek. Ternyata makan orangnya bukan kanibal, tapi sejenis teluh. Duh

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s